Berat benar kurasakan, tugas seorang pendidik. Walaupun tidak seratus persen bisa kutangkap dari keseharian tingkah laku para pengajar di tempat aku bekerja. Kasihan, khawatir, bangga, cemas apalagi mendekati detik-detik menegangkan yang mungkin menjadi momok bukan hanya siswa tetapi juga guru yaitu Ujian Nasional (akupun gak bisa berbuat banyak di posisi sekarang ini, karena bukan bidangku hanya do’a yg ku bisa). Usaha yang tak kenal lelah, berjuang dengan seikhlas-ikhlasnya, berpikir tak kenal tempat dan waktu dilakukan “pahlawan tanpa tanda jasa” ini (khususnya yang ikhlas mengajar di sekolah2 “pinggiran”) hanya untuk keberhasilan putra-putri didiknya.
Tujuan Pemerintah saaaaaaaaaaaaaaaaaangatlah bagus, dengan meningkatkan syarat kelulusan dalam bidang akademik (standar kelulusan UNAS)siswa dari tahun ke tahun, tetapi apakah yang terbaik ? cobalah kita lihat secara obyektif, standar kelulusan tersebut masih menyisakan PR bagi pemerintah. Beberapa media telah memberitakan adanya kebocoran soal pada Unas SMA beberapa waktu yang lalu. Kenapa mereka sampai berusaha membocorkan, atau paling tidak “membantu” anak didiknya dalam UNAS.
Kalau kita bisa amati, perhatikan, telaah, pendidikan sekarang ini mungkin sama dengan pendidikan pada zaman belanda ya?, lihat saja “monopoli” yang dilakukan oleh peraturan penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah favori/negeri misalnya. Boleh gak anak yang kemampuan otaknya di bawah rata2 bisa sekolah di sana. penyaringan bibit unggul tersebut bisa dikatakan pilih kasih, dalam artian tidak semua anak dengan kemampuan apapun bisa sekolah di sana. Bagaimana nasib anak2 yg memiliki peringkat “sisa” dalam rangking dan pengetahuan serta kecerdasan.
Bisakah disamakan keberhasilan pengajaran siswa hanya dengan ukuran nilai (unas) ???????? antara sekolah yang muridnya pilihan, dengan sekolah yang memiliki murid “sisa” hal ini masih menyisakan pertanyaan besar dalam pikiran saya. Sungguh sedih bagai disayat sembilu kalau mendengar keluhan bpk/ibu pengajar “yo’opo yo arek-arek iki diterangno bolak balik sik gak nyantol ae. Apalagi HR yang mereka terima jauuu…h sekali bila dibandingkan dengan teman2nya yang sdh menjadi PNS (walaupun jadi PNS ada juga yang masih kurang), ditambah lagi sarana yang memprihatinkan.
Wah pokoknya serba repot deh, ndak tau lagi gimana mau ngungkapin.

smoga anak didiknya lulus semua yaa…
>>>>> Amiiiin , kita semua berharap demikian and jadi anak2 yang baik, berbakti dan berguna bagi masyarakat <<<<<
Oleh: dewi on Mei 29, 2008
at 12:39 pm