HUDA’S HOME

Belajar Menulis dan Berbagi Untuk Memperbanyak Amal

CERITA BERMAKNA

Ada beberapa kisah petani yang akan disebutkan pada pembahasan ini, di mana kisah ini diambil dari hadits Rosulullah shollallohu alaihi wasallam yang shahih, yang akan banyak memberikan pelajaran bagi kaum muslimin, terlebih bagi para petani muslim. Dalam kisah tersebut nantinya kita akan mendapat teladan yang baik dalam mengarungi kehidupan di dunia, akan kita lihat kearifan dan sikap bijak dalam berbuat, juga ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah subhanahu wataala. Kisah ini juga menunjukkan bahwa islam memberikan petunjuk dan arahan dalam bersikap dalam bertani secara khusus dan bekerja secara umum karena memang banyak terdapat orang-orang yang manakala dia sudah bekerja maka dia lalai dengan akhirat, dan tenggelam dalam Lumpur dunia, terkadang dia sombong, congkak, bakhil bahkan kufur kepada Allah subhanahu wa ta ala, kita berlindung dari hal tersebut.

Kisah tersebut adalah tentang seorang petani yang shalih yang
didapatkan kisahnya dari sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu dari nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), Siramilah kebun si fulan! maka awan ia menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, Wahai hamba Allah, siapakah nama anda? dia menjawab, Fulan. Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, Mengapa anda menanyakan namaku? dia menjawab, Saya
mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan
Siramilah kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah
anda kerjakan dalam kebun ini?. Dia menjawab, Karena anda telah
mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali).[1]

Dalam riwayat lain disebutkan: Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan.

Dalam hadits di atas, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam mengabarkan dan mengisahkan tentang kisah orang-orang terdahulu, yaitu pada zaman sebelum datangnya risalah beliau shollallohu alaihi wasallam. Adapun dalam hal ini, sikap kita adalah membenarkan kisah dalam hadits di atas karena hadits tersebut adalah shahih datang dari Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam [2]
Kisah dalam hadits tersebut memang menakjubkan, dimana diceritakan ada seorang yang sedang menempuh perjalanan di sebuah padang pasir mendengar suara dari awan (mendung) yang merupakan suara dari malaikat yang mengurus awan (hujan) [3]

Siramilah kebun si fulan., lalu orang itu penasaran dan mengikuti
awan itu yang kemudian awan itu mengguyurkan air di atas bebatuan, dan ternyata airnya mengalir ke sebuah kebun. Dia pun mengikuti air itu mengalir, sampai akhirnya dia melihat seseorang di sebuah kebun sedang mengalirkan air tersebut ke kebunnya. Kemudian dia bertanya tentang nama seseorang tersebut, ternyata nama orang tersebut adalah nama yang ia dengar dari awan yang disebut oleh malaikat. Dia merasa takjub dengan kejadian ini dan penasaran dengan orang tersebut sehingga dia menanyakan tentang apa saja yang telah dilakukan oleh petani tersebut.

Pastilah ada perbuatan yang istimewa sehingga dia mendapat karomah dari Allah subhanahu wataala [4] yaitu turunnya air dari awan yang khusus mengairi kebun petani tersebut. Kalau yang biasa terjadi adalah hujan turun membasahi semua kebun atau daerah yang ada tetapi dalam hadits ini hujan atau air khusus mengairi kebun petani tersebut, ini adalah suatu hal yang menakjubkan. Untuk menghilangkan rasa penasarannya maka dia bertanya kepada petani tersebut tentang apa yang dilakukannya dalam bertani sehingga diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta ala. Sampai-sampai diberi air secara khusus. Dengan keikhlasan dan kerendahan hati (tawadhu) dalam bekerja dan beramal shalih (sebenarnya dia enggan menceritakan amal perbuatannya tetap setelah diminta dan melihat adanya manfaat menceritakan amalnya) [5]

Kemudian petani itu menceritakan bahwasanya hasil panennya dibagi
menjadi tiga bagian, sepertiga yang pertama dialokasikan untuk
disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan (fakir miskin,
musafir, dan para peminta-minta) dan sedekah adalah suatu amal yang utama [6], lalu sepertiga yang kedua dari hasil panennya dia
alokasikan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya [7] dan sepertiga yang terakhir dari hasil panennya dialokasikan untuk ditanam lagi (maka dapat diketahui bahwa petani tersebut tidak membuat kerusakan terhadap alam dan lingkungannya dengan tidak menguras semua hasil panen untuk dimanfaatkan semua, namun dia alokasikan sepertiganya dikembalikan ke kebunnya baik ditanam lagi atau menjadi modal pertanian selanjutnya).

Dalam kisah di atas juga dapat diambil pelajaran tentang cara
pertanian yang barokah yaitu dengan melakukan seperti yang dilakukan petani tersebut. Jadi hasil panen itu dialokasikan untuk ketiga perkara yaitu pertama untuk memenuhi kebutuhan kita dan keluarga, kedua untuk medekatkan diri kepada Alloh subhanahu wa ta ala baik dengan sedekah, maupun ibadah lainnya, dan ketiga untuk modal usaha selanjutnya. Tidaklah petani shalih itu menggunakan hasil panennya untuk menumpuk dan mengumpulkan harta serta menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak bermanfaat.

Sebenarnya pada kisah di atas yang sangat ditonjolkan adalah sisi
kedermawanan petani tersebut. Dalam sejarah islam juga ada contoh
orang yang dermawan sebagaimana kisah petani di atas. Untuk contohnya saya akan berikan dari kalangan sahabat adalah Abu Thalhah rodhiyallohu anhu dan dari kalangan thabiin yaitu seorang tabiin agung Urwah bin Zubair rohimahulloh salah satu putra sahabat yang dijamin masuk surga Zubair rodhiyallohu anhu.

Untuk kisah kedermawanan Abu Thalhah rodhiyallohu anhu sebagaimana hadits yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallohu anhu dia menceritakan: Abu Thalhah rodhiyallohu anhu adalah orang anshar yang paling kaya dengan pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah kebun Bairaha yang menghadap (dekat) masjid. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam sering masuk kebun itu dan minum air bersih yang
berada di dalamnya. Anas berkata, Ketika turun ayat ini, Sekali-kali
kamu tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Abu Thalhah menghadap Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan berkata, Ya Rosululloh, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta ala menurunkan ayat ini kepadamu: Sekali-kali kamu tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan bahwasanya kekayaanku yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha , dan kebun itu aku sedekahkan karena Alloh subhanahu wa ta ala dan aku mengharap kebajikan dan simpanan yang baik di sisi Alloh subhanahu wa taala. Oleh karena itu pergunakanlah ya Rosulullah, sesuai dengan petunjuk Allah yang diberikan kepadamu. Maka Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: Bagus, itu adalah harta yang menguntungkan, itulah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan tadi, dan aku berpendapat, hendaklah engkau membagikan kepada kepada sanak kerabat. Maka Abu Thalhah berkata,
Aku akan kerjakan, ya Rosululloh. Kemudian Abu Thalhah
membagi-bagikan kebun itu kepada sanak kerabat dan
keponakan-keponakannya.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah keteladanan beliau,
di antaranya yang disebutkan oleh Syaikh Salim: Kandungan hadits ini adalah:

1. Keutamaan infak dengan menggunakan kekayaan yang paling baik dan paling dicintai oleh seorang hamba.
2. Kesegeraan para sahabat untuk memenuhi perintah Alloh untuk
mencapai tingkatan yang dicintai Allah dan rasul-Nya.
3. Orang-orang yang lebih berhak mendapatkan perbuatan baik adalah keluarga dan karib kerabat.
4. Dalam hadits ini terdapat keutamaan Abu Thalhah, karena ayat
al-Qur an di atas mencakup perintah untuk menginfakkan harta yang
dicintai,sehingga menggerakkan hati Abu Thalhah untuk menginfakkan harta yang paling dia cintai. Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam membenarkan pendapatnya itu dengan mengatakan: Bagus, itu adalah harta yang menguntungkan.
5. Harta kekayaan yang dipersembahkan kehadapan Rabbnya dan di sana untuk suatu hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak merupakan harta yang menguntungkan dan perdagangan yang tidak akan pernah merugi, Karena Firman Allah subhanahu wa ta ala: Apa yang ada sisimu akan lenyap, dan apa yang ada pada sisi Alloh
adalah kekal. (QS. An Nahl : 96).[9]

Sementara kisah kedermawanan Urwah bin Zubair rohimahulloh adalah sebagai berikut. Urwah bin Zubair adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya itu adalah ketika beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau memasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binatang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buahnya telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya,dibukalah
beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapa pun yang menghendakinya. Begitulah orang-orang keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai dengan keinginannya. Setiap kali memasuki kebun, beliau mengulang-ulang firman Allah subhanahu wa ta ala: Dan mengapa kamu tidak mengucapkannya tatkala kamu memasuki kebunmu Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah.(sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). (QS. Al Kahfi : 39) [10]

Demikianlah tiga kisah yang menakjubkan, dan memang sulit didapati kisah-kisah seperti ini pada zaman sekarang, seakan-akan hanya sekedar dongeng dan cerita fiktif. Namun sebenarnya tiga kisah tersebut adalah nyata dan bisa kita coba untuk meneladaninya dan tidak mustahil kita pun bisa melakukannya.

[1] HR. Imam Muslim no. 2984.

[2] Berkata Syaikh Saliem Ied Al-hilalli dalam menjelaskan hadits
tersebut, Bahwa umat-umat terdahulu, pada mereka terdapat hal-hal
yang menakjubkan, kita tidak membenarkan hal itu kecuali apa yang
telah shahih dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dengan
penukilan yang kuat. (Bahjatun Nazhirin, jilid 1 hal. 613)

[3] Berkata Syaikh Saliem Ied Al-hilalli, Bahwa diantara malaikat
ada yang bertugas memberi rizki dan mengatur awan (hujan). (Bahjatun Nazhirin, jilid 1 hal.613). Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab: Awan tunduk untuk berjalan sesuai dengan kehendak Allah, dan ada malaikat yang bertugas mengawasi jalannya awan dan Orang mukmin adalah manusia biasa yang bisa saja mendengar suara malaikat. (61 Kisah Pengantar Tidur, hal.59-60).

[4] Berkata Syaikh Saliem Ied Al-hilalli, (Dalam hadits ini
terdapat) Penetapan adanya karomah bagi para wali Allah dan mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. (Bahjatun Nazhirin, jilid 1 hal.613). Dan Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab, (Dalam hadits ini terdapat) penetapan adanya karomah para wali, sehingga alam tunduk padanya. (61 Kisah Pengantar Tidur, hal.59-60).

[5] Cobalah perhatikan perkataanya yang menunjukkan keikhlasan
kerendahan hatinya, ketika ditanya Maka apakah yang telah anda
kerjakan dalam kebun ini.? Kemudian dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan.

[6] Berkata Imam Nawawi : Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang miskin dan orang-orang dalam perjalanan. Juga keutamaan seorang yang makan dari hasil usahanya sendiri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga. (Kunci-kunci Rizki Menurut Al Qur an & As Sunnah hal.75).

Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab, Pelajaran yang dapat di petik dari hadits ini adalah Keutamaan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan , anjuran untuk berbuat baik kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar , dan Allah mencintai orang yang hidupnya seimbang, dia mau menginfakkan sebagian hartanya kepada yang berhak menerimanya (61 Kisah Pengantar Tidur, hal.59-60). Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad mengomentari hadits di atas: (Hadits ini) termasuk dari (contoh) pengaruh-pengaruh yang baik, yang diperoleh dari sedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin. (Atsarul Ibadat Fi Hayatil muslim, hal.23).

[7] Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab, Pelajaran yang dapat dipetik dari hadits ini adalah Keutamaan seseorang yang makan dari hasil usahanya sendiri, Keutamaan memberi nafkah kepada istri dan keluarganya . (61 Kisah Pengantar Tidur, hal.59-60). Berkata Syaikh Saliem Ied Al-hilalli, (Dalam hadits ini terdapat pelajaran).
Keutamaan mendekatkan diri kepada Alloh subhanahu wa ta ala dengan memberi nafkah kepada keluarga yang wajib diberi nafkah dan kepada orang yang mengalami kekurangan (fakir miskin). ((Bahjatun Nazhirin, jilid 1 hal.613).

[8] HR. Imam Bukhari (III/325-Fath), Imam Muslim (998)

[9] Syarah Riydhus Shalihin, hal 668.

[10] Jejak Para Tabi ien, hal.45.    sumber : facebook Tani Bangkit

Filed under: Pendidikan, , ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.